Menyemai Toleransi di Atas Tanah yang Sama
Kegiatan yang berlangsung selama sepekan ini diawali dengan sesi berbagi nilai-nilai spiritual tentang pelestarian alam. Siswa dari berbagai agama duduk melingkar, mendengarkan perspektif masing-masing tentang tanggung jawab manusia sebagai penjaga alam:
Siswa Islam berbagi konsep Khalifah fil Ardh (pemimpin di bumi).
Siswa Kristen dan Katolik memaparkan tugas menjaga keutuhan ciptaan Tuhan.
Siswa Hindu menjelaskan konsep Tri Hita Karana, khususnya hubungan harmonis antara manusia dengan alam (Palemahan).
Setelah pembekalan teori, seluruh siswa mempraktikkan kolaborasi nyata di lapangan. Tanpa melihat sekat perbedaan, mereka bekerja sama membersihkan ruangan aula (tempat berkumpul) dan halaman sekolah.
Koordinator Projek P7 kelas XI menyampaikan bahwa tujuan utama dari penggabungan ini adalah agar siswa tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter Pancasila yang kuat.
"Melalui tema lingkungan, kami ingin menunjukkan bahwa meskipun cara kita beribadah berbeda, kita memiliki rumah yang sama untuk dijaga, yaitu Bumi. Di sini, keberagaman menjadi kekuatan untuk menciptakan solusi bagi masalah lingkungan," ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama, di mana para siswa menuliskan komitmen mereka untuk tetap menjaga toleransi dan melestarikan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
